Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Manajemen Pak Harto Pengembangan Sumber Daya Manusia

Manajemen Pak Harto Pengembangan Sumber Daya Manusia  

Pada awal jabatan sebagai Presiden, terlihat bahwa Pak Harto benar-benar orang yang mau belajar dan bersedia mengetahui kekurangannya. Itu merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Terlebih kala beliau memegang jabatan kepresidenan, terjadi perubahan sistem dari Orde Lama ke Orde Baru, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dapat dilihat bagaimana beliau mengangkat teknokrat pada Kabinet Pembangunan I. Setelah itu teknokrat yang menjalankan, dan beliau ada di belakang? Sekarang meski beliau sudah menguasai semua ilmu, tetap saja teknokrat yang melaksanakannya, dengan final decision tetap pada beliau.

Beliau bisa melakukannya karena sudah biasa memimpin di ABRI. Perang, misalnya, adalah gabungan berbagai hal, tetapi tetap saja final decision ada pada beliau. Beliau memilih yang terbaik. Serangan enam jam di Yogyakarta, misalnya, Beliau sangat mengetahui kekuatan lawan, tetapi beliau juga memandang perlu memperlihatkan pada dunia luar bahwa tentara di Indonesia masih ada, walaupun presidennya sedang ditawan. Ini juga terlihat ketika beliau memimpin pembebasan Irian Jaya. Jadi dalam hal ini saya melihat cara beliau bekerja, how to manage, beliau mau belajar kemudian beliau menguasainya.

Pak Harto

Pak Harto

Untuk menyimak keandalan manajemen Pak Harto ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Pak Harto itu mau mempelajari dan menghargai kemampuan orang lain. Kedua, ikut memikirkan bagaimana supaya setiap ide bisa dilaksanakan Ketiga beliau ikut menentukan prioritas, supaya sejalan dengan kemampuan keuangan yang terbatas. Dan, keempat, di dalam melaksanakan pembangunan berusaha untuk melibatkan seluruh masyarakat. Inilah cara beliau bekerja.

Di dalam bekerja beliau berpesan agar tidak membuat gejolak-gejolak. Beliau berpesan supaya yang sudah ada agar dilanjutkan dan yang belum selesai, supaya diselesaikan. Karena seringkali tidak selesainya sesuatu hal belum tentu karena tidak mampu, tapi karena waktu yang terbatas. Jadi kita diberi kebebasan yang luas karena rambu-rambunya sudah ada, yaitu Repelita dan GBHN. Tinggal bagaimana kita melaksanakannya. Dan, Pak Harto tidak pernah ikut sampai hal-hal yang tetek bengek.

Di dalam menjalankan pembangunan orientasi beliau selalu untuk orang banyak. Misalnya, sewaktu kembali dari pertemuan di Manila, dicanangkan ada 10 program, di mana salah satunya adalah meningkatkan kualitas anak, baik melalui Pendidikan atau yang lainnya. 

Tapi beliau juga tidak melupakan masih adanya masalah kekurangan yodium (Iodium) dalam masyarakat kita. Jika seseorang kekurangan yodium dampaknya bukan hanya gondok, kerdil, tapi IQ-nya hilang 5 sampai 50 poin. Saya kemukakan ini pada beliau, dan penanggulangannya tidak bisa ditunda-tunda lagi. 

Beliau berpesan supaya petani garam tetap hidup, tetapi di sisi lain masyarakat harus mengkonsumsi garam yang sudah beryodium. Petani garam biasa tak bisa membuat garam beryodium karena memerlukan teknologi. Beliau mengatakan supaya garam dari rakyat dibeli oleh koperasi, kemudian koperasi yang mampu memiliki teknologi yang mencampur dengan yodium. 

Kemudian dipacking, dan dijual baik melalui koperasi atau jalur penjualan lain. Yang penting rakyat terjamin bahwa semua garam yang mereka beli sudah mengandung yodium. Untuk diketahui saat ini ada sekitar 40 juta penduduk Indonesia yang kekurangan yodium. Oleh karena itu, program garam beryodium akan dilaksanakan tahun 1995. Mudah-mudahan tahun 1996 tak akan ada lagi garam tanpa yodium yang dikonsumsi masyarakat. Sebenarnya yang mahal adalah yodiumnya. 


Permasalahannya adalah bersediakah Departemen Keuangan tidak mengenakan pajak pada produksi garam beryodium? Jika bersedia. Pemerintah menyumbang Rp 30 milyar. Buat Pemerintah Rp 30 milyar untuk jutaan penduduk, saya rasa tidak ada artinya. Jauh lebih mudah dan murah daripada kita mengobati 10 juta penduduk setiap tahun dengan kapsul yodium.

Terlihat bahwa hal-hal yang disampaikan beliau bersifat praktis dan kita mudah menerjemahkan. Satu lagi kegiatan besar-besaran yang memerlukan dana cukup banyak adalah program "imunisasi polio. Di dalam meningkatkan kesehatan manusia Indonesia, salah satu program Departemen Kesehatan adalah dengan cara menghilangkan penyakit polio dari muka bumi Indonesia. 

Dengan program ini Indonesia akan bebas polio tahun 2000, -kalau kita berhasil melaksanakan suatu usaha khusus memberikan imunisasi pada anak di bawah 5 tahun yang seluruhnya berjumlah 22 juta jiwa. Pak Harto setuju dengan rencana ini karena tujuannya adalah memproduktifkan masyarakat lewat kesehatan. 

Dengan pemberian imunisasi polio waktu bayi maka orang tidak akan lumpuh seumur hidup. Untuk diketahui, polio dapat menular melalui air, minuman, dan makanan. Menghilangkannya dengan cara memotong lingkaran siklusnya. Orang yang mudah ditulari adalah anak kecil di bawah 5 tahun. Program imunisasi dilaksanakan dalam satu minggu, dan dilakukan 2 kali. 

Untuk itu diperlukan bantuan dari sektor-sektor lain. Itulah sebabnya masalah imunisasi masuk dalam pidato laporan keuangan di MPR dan memerlukan dana Rp 45 milyar (termasuk bantuan negara donor). Semua pihak dilibatkan. Kalau program ini berhasil maka tahun 2000 kita tak perlu lagi anggaran sebesar itu.

Juga kita kemukakan pada beliau sebaiknya vaksin hepatitis B hendaknya kita produksi sendiri, dan kalau bisa harganya US$ 1. Lebih murah dibanding kalau kita beli dari luar negeri yaitu US$ 10. Saya mengatakan kepada Bapak Presiden, kalau vaksin hepatitis ini sudah bisa kita produksi, saya minta izin untuk melakukan imunisasi terhadap setiap bayi yang lahir” agar terhindar dari hepatitis B. 

Kalau tidak dilakukan sedini mungkin, akan menyerang 10% dari bayi yang lahir yang ibunya mengidap virus hepatitis B. Si penderita akan merasakannya setelah SMA dan biaya pengobatannya cukup besar. Jadi kalau kita bisa menerjemahkan dalam bentuk program yang riil, akhimya produktivitas sumber daya manusia kita akan meningkat.

Jadi untuk menyimak pola manajemen Pak Harto, ada hal-hal utama yang perlu diperhatikan. Pertama, manajemen beliau tidak sulit, mudah dimengerti dan mudah dilaksanakan. Kedua, beliau terbuka kepada para pembantunya. Ketiga, kita tidak harus selalu perlu minta izin pada beliau untuk melaksanakannya. 

Kebebasan ini ditopang oleh sifat beliau yang sangat menghargai kemampuan orang lain. Keempat, sebagai seorang pemimpin beliau bertanggung jawab terhadap anak buah. Jadi tidak sekedar lantas oke, tapi tidak diberi kesempatan. Dapat dikatakan bahwa beliau itu bersifat mengayomi, mendidik, memberikan kesempatan, dan kemudian melindungi. 

Dalam hal komunikasi, kita bisa berdiskusi dan beliau pun dapat menerima untuk berargumentasi. Karenanya ide tak selalu harus dari beliau. Karenanya, beliau hargai pendapat kita. Kelima, beliau selalu menjaga kebersamaan. Bahwa tak mungkin segala sesuatu dapat dikerjakan sendiri. Pendekatan-pendekatan itulah yang membuat beliau berhasil dalam kepemimpinannya.

Secara khusus, dalam hal berkomunikasi dengan Presiden, ada beberapa departemen yang setiap bulan mengadakan pertemuan dengan beliau, yaitu yang menyangkut keuangan dan industri. Departemen Kesehatan masuk dalam koordinasi Menko Kesra, di mana yang setiap sebulan sekali bertemu Bapak Presiden adalah Menkonya. 

Kadang-kadang diikuti dengan beberapa menteri lainnya. Kita sendiri pun dapat langsung menghadap kepada Presiden kalau ada yang perlu dilaporkan. Misalnya sehabis melaksanakan kunjungan ke luar negeri kita harus lapor. Atau bisa juga waktu kita memerlukan pendapat beliau. 

Kalau beliau ada waktu, biasanya beliau welcome. Misalnya, saya akan mengundang tamu, pendapat beliau bagaimana. Sepanjang menyangkut mempromosikan kita dalam menjual obat dan demi kepentingan negara, biasanya beliau menyetujui. Tapi jangan semuanya harus kepada beliau, nanti justru akan merepotkan. 

Di luar itu yang saya kagumi adalah daya ingatnya. Kita harus cermat kalau membeberkan angka kepada beliau. Kalau memakai angka harus akurat. Karena beliau akan mengingatnya. Alhamdulillah, saya belum pernah ditegur beliau. 

Saat ini yang beliau prihatinkan sehubungan dengan masalah kesehatan itu adalah jangan sampai harga obat naik, dan tidak terjangkau. Oleh karenanya puskesmas harus berjalan. Selain itu, Pak Harto juga menguasai masalah-masalah kesehatan. 

Lihat saja, dalam usianya kini, Pak Harto masih fit. Belum lagi daya tangkapnya yang masih tetap hebat. Lebih dari itu, saya tidak dapat melupakan sifat kebapakan dan ngemong2)-nya beliau. Setiap hari Sabtu beliau selalu berkumpul bersama anak dan cucu. Bukankah itu sangat manusiawi sekali.

Sebenarnya saya baru mengetahui lebih banyak tentang keberhasdan kita di bidang pembangunan kesehatan setelah masuk Departemen Kesehatan. Pemerintah selalu dianggap kurang memberikan perhatian di bidang kesehatan sehingga disebutkan anggaran di bidang kesehatan sekitar 2%-2,5% dari APBN. 

Seharusnya sesuai ketentuan WHO anggaran belanja untuk kesehatan itu 5% total anggaran. Tapi dengan dana tersebut pun ternyata kita berhasil dalam melaksanakan pembangunan kesehatan. Dalam 25 tahun kita telah dapat mengubah dari status sumber daya manusia Indonesia di mana standar kesehatan ikut sebagai” faktor dari yang low, di bawah 0,5 menjadi medmm, di atas 0,5. Di dunia baru 25% negara yang bisa mengubah status indeks SDM (Sumber Daya Manusia)-nya dari low ke medium, 

Problem kita adalah jumlah penduduk yang sangat banyak. Padahal yang membentuk indeks sumber daya manusia adalah derajat kesehatan, dilihat dari usia harapan hidup. Kedua, tingkat melek huruf pendidikan. Ketiga, tingkat pendapatan dan kemampuan membelanjakan pendapatan. 

Kalau kita melihat data, sebelum PJP II kurang dari 20% penduduk Indonesia yang dapat dilayani kesehatannya. Karena kegiatan pelayanan kesehatan sebagian besar ada di kota. Dalam 25 tahun yang belum terjangkau tinggal 20% Jadi 80% sudah dapat memanfaatkan sarana kesehatan yang ada, dengan adanya puskesmas-puskesmas). 

Tujuannya adalah untuk mensejahterakan masyarakat. Dengan mengetahui prioritas yang harus dikerjakan maka kita berhasil. Padahal anggarannya kecil dan tidak sesuai dengan ketentuan negara-negara yang memerlukan untuk meningkatkan kesehatan. Tapi toh kita berhasil. 

Prioritasnya adalah membuat masyarakat banyak menjadi sehat, bukan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang mentereng-mentereng. Itu yang disebut dengan primary health care, seperti: puskesmas, pemberantasan penyakit menular, imunisasi supaya anak-anak itu sehat, agar anak-anak tidak lagi meninggal pada waktu kecil, supaya mereka menjadi lebih panjang umurnya, kemudian program peningkatan gizi terutama bagi ibu-ibu hamil.

Dalam pembangunan di bidang kesehatan, Pak Harto melibatkan partisipasi seluruh masyarakat. Terus terang Pemerintah baru bisa membiayai 30% dari semua itu, sisanya 70% berasal dari partisipasi masyarakat. Inilah yang membuat kita berhasil. 

Community participation on health di Indonesia itu berhasil karena melibatkan ibu-ibu pada program PKK dari propinsi sampai desa-desa. Bukan sekedar mengada-ada, memang benar-benar berpartisipasi. Misalnya dalam program Posyandu“: ada penimbangan, pemberian makanan yang sehat, imunisasi. 

Hasilnya, misalnya standar imunisasi Unicef yang 80% kini sudah terjangkau. Itu salah satu sebabnya, kenapa Nyonya Clinton kemari ingin melihat Posyandu. Beliau sampai tertegun kita bawa ke Yogyakarta dan Magelang. Di sebuah halaman rumah seorang penduduk kita adakan program Posyandu yang diadakan sebulan sekali. Di negara-negara lain tidak ada kegiatan seperti ini.

Kini, dengan keberhasilan pembangunan nasional, kita juga menghadapi tantangan berat, ialah telah terjadi perubahan pola hidup masyarakat kita. Dulu kita sulit mendapatkan susu. Sekarang mudah. Kita bangga dengan kemajuan ini. 

Dahulu pada usia 45 tahun rataerata manusia Indonesia sudah meninggal. Sekarang rata-rata usia harapan hidup secara nasional adalah 62,4 tahun. Bahkan ada yang rata-rata 68-70 tahun, misalnya yang tinggal di daerah Yogyakarta. Ini menunjukkan bahwa kita telah berhasil membuat manusia Indonesia lebih sehat. 

Berarti ia sudah cukup dari pada makan, cukup kebutuhan sehari-hari. Tingkat ekonomi membuat orang lebih sehat. Tingkat pendidikan, wajib belajar 6 tahun, ini telah mengubah kesadaran masyarakat akan kesehatan. Akibatnya pola penyakit pun berubah. Dulu orang meninggal karena penyakit tipus, diare. 

Sekarang yang meningkat penyakit yang disebabkan pola makanan yang berubah. Karena orang lebih banyak makan hamburger, fast food, dan sandwich. Tidak serabi. Karenanya ia menjadi kelebihan lemak. Sehingga penyakit di daerah yang maju bukan infeksi biasa, melainkan gangguan jantung dan pembuluh darah yang kini menjadi number one killer di kota-kota besar dalam waktu 20 tahun terakhir. 

Jadi keluarlah anjuran-anjuran makanan sehat dan sebagainya. Kemudian karena usia makin panjang maka lever, jantung terganggu. Orang perlu cuci darah. Dulu belum sampai kanker orang sudah meninggal. Sekarang di kota-kota tertentu, seperti Jakarta, kanker merupakan penyebab kematian nomor 6.

Jadi, Departemen Kesehatan mendapatkan 2 beban di masa yang akan datang. Pertama, menghadapi penyakit yang baru yang memerlukan penanganan lebih teliti, lebih canggih, baik pendekatan diagnosa dalam pengobatannya, termasuk rehabilitasi. Untuk itu dibangun rumah-rumah sakit khusus untuk jantung, kanker dan sebagainya. 


Sebab manusia-manusia ini kan sumber daya kita. Jangan sampai hari tuanya sakit-sakit melulu. Bahkan kalau tua pun kita usahakan supaya dapat ditangani supaya sehat. Ini memerlukan alat dan rumah sakit yang biayanya besar. Kedua, permasalahan bahwa baru 80% dari seluruh masyarakat kita yang mendapatkan pelayanan dasar. Jadi masih ada 20% yang belum terjangkau.

Di beberapa negara sudah menjadi kelaziman Pemerintah harus mengentaskan kemiskinan, di mana kesehatan adalah salah satu aspeknya. Tetapi tidak ada yang pendekatannya seperti di lndonesia. Setelah orang itu sehat, bagaimana supaya dia bisa bekerja. 

Untuk itu kita siapkan modal Rp 20 juta pada desa tertinggal yang dipakai untuk koperasi, PKK. Di negara lain tidak ada, kesehatan ya untuk kesehatan. Di sini program-program tersebut terkoordinir sekali. Itu ide Bapak Presiden. Itu beban ganda, di satu pihak masih pada program dasar, dan meratakan pelayanan, sementara di lain pihak meningkatkan mutu pelayanan. SubSidi Silang dilakukan ke daerah yang kurang mampu. 

Masalahnya kini, bagaimana supaya usaha-usaha Departemen Kesehatan bisa dilakukan semakin cepat. Untuk itu dilaksanakan berbagai program, seperti asuransi kesehatan. Ada 2 macam asuransi yang ditawarkan. Pertama, berdasarkan paket di mana 1119 yang bersangkutan terjamin, anak dan istri terjamin. Kedua, Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat, di mana yang sehat membantu yang sakit.

Semua membayar jumlah yang sama, seperti program Askes. Program ini dikembangkan di desa-desa, kecamatan sampai propinsi. Kelebihan dana dipakai untuk pembangunan sanitasi, jamban, memperbaiki saluran air. Departemen Kesehatan juga meningkatkan jumlah rumah sakit yang ada di kabupaten. 

Kami mengajak swasta terlibat, investasi asing (PMA) pun boleh. Tapi ada syarat sosial Penerjemahannya adalah agar 25% dari pelayanan harus diberikan kepada mereka yang kurang mampu. Rumah-rumah sakit pun harus dibina agar bersedia melayani masyarakat setempat. 

Dengan dibangunnya rumah sakit di kota-kota besar maka uang Pemerintah dipakai untuk mengembangkan sarana kesehatan di kabupaten. PMA masuk di rumah sakit, tetapi direkturnya harus dokter dan warganegara Indonesia. Menjelang tahun 2020, kita mengusahakan supaya tahun 2010 sudah bisa mengekspor dokter. Juga bagaimana mengubah citra kesehatan, agar masyarakat percaya akan kemampuan dokter kita.

Harap diketahui Pak Harto concern sekali kepada hal-hal yang detil, seperti kartu sehat (jaminan yang miskin dapat berobat di Puskesmas) dan di mana mereka yang kurang mampu dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan tidak perlu bayar. Sebab kalau ia sehat, ia bisa bekerja dan dapat upah. Karenanya bisa menghidupi keluarganya. 

Perekonomian berjalan. Ada contoh baik, sebuah pabrik susu memberikan makan siang pada karyawan. Dengan diberikan makan, maka jumlah yang sakit tinggal 1%. Akibatnya karyawan menjadi lebih produktif dan hasilnya pun meningkat, produksinya meningkat. Kemudian ada gerakan memberikan ASI (Air Susu Ibu) pada bayi sampai 4 bulan. 

Masalahnya bagaimana bila ibu-ibu bekerja. Di beberapa negara Eropa, setiap tempat kerja memiliki tempat penampungan anak dan ada pengawasnya. Sewaktu-waktu ibu boleh ke sana, memberikan ASI kepada anaknya, kemudian melanjutkan bekerja. Apa yang terjadi? Investasi US$ 1, kembali US$ 8. Hasilnya diproduktivitas. 

Karena anak-anak itu jarang sakit maka orang tuanya tidak perlu izin mengantar anak ke rumah sakit. Jadi saya selalu menerjemahkan dari Bapak Presiden, bahwa kesehatan bukan suatu hal yang menghabiskan uang. Kesehatan bisa membuat sumber daya manusia menjadi lebih produktif.

Barangkali tidak jauh berbeda dengan yang lain, saya pun tidak mengira diangkat sebagai Menteri Kesehatan. Saya ditelepon bapak waktu bulan puasa. Beliau pintar karena bulan puasa, waktu sahur atau buka pasti ada di rumah. Saya ditelepon pukul 17.30 oleh ajudan Presiden, dan diminta menghubungi sebuah nomor telepon, di mana saya ditunggu Bapak Presiden. 

Kalau belum bisa, supaya dicoba sampai bisa. Saya langsung telepon, dan suara di sana memang suara Bapak Presiden. Beliau langsung menawarkan untuk ikut pada Kabinet yang akan datang. Saya mengatakan itu suatu kehormatan bagi saya. Kemudian beliau berpesan untuk tidak menceritakan pada yang lain, termasuk istri. 

Sebelumnya ajudan Presiden berpesan, agar setelah bisa mengontak bapak, dimohon menghubungi sebuah nomor lagi. Saya langsung menelepon, tapi tidak bisa masuk, saya sempat berpikir, apa benar yang tadi bicara itu Bapak Presiden? Pukul 23.00 baru saya ingat untuk telepon sebab sebelumnya saya salat tarawih dan hampir lupa telepon. 

"Selamat pak", kata si penerima telepon yang diberikan ajudan tadi. Dan memang betul yang saya dengar tadi. Akhirnya malam itu saya beritahukan istri karena kalau itu betul, kan harus mempersiapkan pakaian nasional dan segala macam, mesti diukur. Kalau saya sih gampang, jas mana pun langsung jadi.

Post a Comment for "Manajemen Pak Harto Pengembangan Sumber Daya Manusia "