Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Tari Berpasangan atau Kelompok Daerah Setempat

Pengertian Tari Berpasangan atau Kelompok Daerah Setempat

A. Bentuk Tari Kreasi Daerah Setempat

Sebelum berkreasi menyusun tari daerah setempat, terlebih dahulu harus mengetahui bentuk-bentuk penyajian tari tradisi (daerah setempat). Hal ini' karena tari tersebut sebagai dasar dalam membuat cipta tari kreasi. Bentuk penyajian tari, antara lain meliputi: 

1. Tari Tunggal 

Tari Tunggal adalah penampilan tari yang dibawakan oleh seorang penari putri atau putra. 
Bentuk tarian berdiri sendiri tidak terkait dengan penampilan tari sebelum atau berikutnya. 
Biasanya jenis tariannya berupa penokohan dalam suatu cerita. 
Penari berfungsi sebagai tokoh/pemeran yang dituntut terampil dan matang karena sebagai pusat perhatian tunggal.  

Secara umumjenis ragam gerak tari tunggal terdiri dari: gerak ditempat, gerak berpindah tempat, gerak lantai, dan gerak melompat. 

Contoh tari tunggal 
  • Tari Gambir Anom.
  • Tari Topeng.
  • Tari Ngremo.
  • Tari Srikandi.
  • Tari Anjasmoro. 
  • Tari Menak Kuncar. 
  • Tari Sekar Putri.
  • Tari Gunung Sari.
  • Tati Garut kaca gandrung.

2. Tari Berpasangan 

Tari berpasangan adalah bentuk tarian yang ditarikan oleh dua orang penari yang umumnya seorang penari putri dan seorang penari putra. Jenis tariannya dapat dua jenis gaya sama atau berbeda. 

Pengertian Tari Berpasangan atau Kelompok Daerah Setempat

Tari pasangan di Jawa Tengah ada dua macam, yaitu: Tari Wireng dan Tari Pethilan. 

a. Tari Wireng, ciri-cirinya adalah: 

  • Ragam gerak (sekaran) sama dan dapat tidak sama. Ada ragam gerak peperangan. 
  • Tidak ada yang kalah dan yang menang. 
  • Busana (pakaian) sama atau bisa tidak sama. 
Contoh: Tari Retnotinanding, Tari Prawiroguno, Tari Bondoyudo, Tari Bugis Kambat. 

b. Tari Pethilan 

Tari Pethilan adalah tari perang antara dua tokoh. Diangkat dari tema cerita atau cuplikan peristiwa. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: 
  • Ragam gerak ( Sekaran ) sama dan dapat tidak sama. Ada ragam gerak perang/peperangan. 
  • Ada yang kalah/mati. 
  • Tata busana sama atau dapat tidak sama.
Contoh: 
  • Tari Srikandi-Mustakaweni 
  • Tari Bambangan Cakil 
  • Tari Sugriwo-Subali 
  • Tari Adaninggar-Klaswara 
  • Tari berpasangan daerah setempat Nusantara yang lain, contohnya sebagai berikut: 
  • Tari Saputangan (Sumatera).
  • Tari Tayub (Jawa Tengah). 
  • Tari Payung (Sumatera).
  • Tari Saman (Aceh).
  • Tari Jaipong (Jawa Barat). 
  • Tari Kethuk Tilu (Jawa Barat). 
  • Tari Tani (Jawa Tengah).
  • Tari Piring (Sumatera Barat).

3. Tari Kelompok 

Tari kelompok merupakan bentuk tarian yang dibawakan oleh beberapa penari. Ragam tari kelompok antara lain berupa: 

Apabila gerakan, irama, dan aksen dilakukan secara serempak disebut Tari Rampak. Adapun bila tariannya terlepas satu sama lain disebut tari paduan kelompok. 

Pada dasarnya, tari masal hanya merupakan tarian bersama atau kelompok dengan ragam dan gerak yang sama. Tata busana dan rias bisa sama dan bisa berbeda. 

Pengertian Tari Berpasangan atau Kelompok Daerah Setempat

Contoh: 
  • Tari Srimpi (Jawa Tengah). 
  • Tari Topeng Betawi (Jakarta). 
  • Tari Lenso (Ambon). 
  • Tari Gambyong (Surakarta). 
  • Tari Pendhet (Bali). 
  • Tari Merak (Jawa Barat).
  • Tari golek (Surakarta). 
  • Tari Kiprah Glipang (Jawa Timur). 
Suatu gerakan berpasangan, kelompok sebenarnya hampir sama dengan tari tunggal. Hanya secara khusus terdapat perbedaan kecil. Ragam gerak tersebut seperti gerak berlawanan, gerak merambat dan gerak sejajar. Gerak gerak itu dapat dibuat menjadi gerak gerak: Simbang, terpecah, serempak, gerak selang-seling , gerak bergantian.

4. Drama Tari/Sendra Tari 

Drama tari yaitu drama (teater) yang cara penyampaian ceritanya di ungkapkan dalam bentuk gerak gerak tari. Sering disebut Seni drama tari (Sendratan). Isi ceritanya umumnya diambil dari epos Ramayana dan Mahabarata atau cerita rakyat daerah setempat. 

Contoh: 
a. Sendratari Ramayana di Candi Prambanan (Yogyakarta).
b. Pethilan/wayazg orang (Jawa Tengah).
c. Langen Mandrawanara (Yogyakarta).
d. Topeng Ramayana (Jawa Barat). 
e. Tari Barong dan Tari Kecak (Bali). 
f. Makyong (Riau). 
g. Randai (Minangkabau). 

B. Menmpilkan Seni Tari Kelompok atau Berpsangan

Pernahkah Anda menampilkan seni tari kelompok/berpasangan berdasarkan tari Nusantara daerah setempat? Dalam kesempatan ini disampaikan tari kreasi baru “Soyong” yang berasal dari tari daerah Jawa Tengah. 

Perkembangan tari tradisional Jawa yang lambat membangkitkan peran seminar (koreografi) untuk membuat tari kreasi baru. Tujuannya adalah untuk menambah perbendaharaan (vocabullka) tari Nusantara. Di samping itu, untuk memberi apresiasi seni tari tradisi pada generasi muda, dan untuk dikembangkan sesuai dengan kemajuan dan perkembangan zaman. Tata busana, rias, aksesoris seperti tradisi dengan pola yang tetap dan patron. Rias wajah meliputi mata, alis, bibir, pipi, pelipis. Meskipun dalam tari kreasi baru dalam hal tata rias terdapat kebebasan, namun penari dan koreografer tidak bisa lepas dari gerak tari Bali. 

Kostum yang digunakan penari berupa baju lengan panjang, kain kebaya, selendang atu sampur. Tata rias biasa, sederhana. Tari Sayong dibawakan oleh enam penari wanita. Iringan tari, dari gamelan jawa, bisa dengan instrumen langsung atau dengan menggunakan kaset atau CD.

C. Menyiapkan dan Menggelar Pertunjukan Seni Tari Kreasi

1. Menyiapkan Pertunjukan 

Untuk dapat menampilkan karya seni tari di kelas atau sekolah yang baik. diperlukan persiapkan lebih dahulu. Persiapan yang sungguh-sungguh dan matang tersebut dapat menghasilkan pertunjukan yang maksimal. 

Persiapan untuk bentuk tari tunggal berbeda dengan tari kelompok. Persiapan untuk penari tunggal lebih ringan karena hanya untuk mencukupi keperluan diri sendiri, sedangkan persiapan untuk tari berpasangan/kelompok melibatkan benyak penari dan diperlukan kekompakan penari serta kelengkapan tari yang memadai. 

Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk penampilan pertunjukan tari, antara lain: 

a. Busana atau kostum 
Penampilan tari tidak bisa lepas dari busana (pakaian). Fungsi busana adalah pendukung penampilan tari. Busana yang baik dan selaras atau lebih menguatkan penjiwaan penari akan membuat tubuh lebih menarik dan menguatkan karakter tokoh yang ditarikan. 

b. Tata rias 
Tata rias wajah untuk penari sebagai kelengkapan pertunjukan tari. Sarana materi tata rias yang perlu dipersiapkan, antara lain: bedak, lipstik, sinwiz (pewarna) untuk tari tradisi, lotha (berwarna hitam) untuk membuat Sinom; alm, celak, aye shadow, sisir, kaca rias, kuas. 

Mertua wajah yang baik diperlukan pemahaman karakter wajah. Bagaimana membuat wajah tokoh yang mempunyai watak lembut, keras, anggun, pemberani, riang, wajah tua, atau muda. Merias wajah pada dasarnya adalah sama dengan melukis, hanya bidang dasarnya adalah wajah. Oleh sebab itu seorang perias harus mengerti komposisi unsur rupa (warna, garis, titik, gelap terang, bidang) agar dapat membuat harmonis/serasi sehingga tampak indah dan menarik. 

c. Aksesoris 
Penampilan tari, terutama tari tradisional diperlukan aksesoris untuk pendukung tari. Dengan aksesoris yang lengkap, penari akan tampak anggun atau berwibawa dan menjiwai dalam menari. Contoh aksesoris pendukung: mahkota atau jamang, gelang tangan atau kaki, kalung, anting dan sumping untuk telinga, hiasan dada. Pada umumnya aksesoris ini terbuat dari bahan yang gemerlap atau meriah, contoh: tari tradisi Bali, Kalimantan, Palembang, Jawa Barat, Betawi (Jakarta), dan Jawa timur, banyak menggunakan aksesoris tari. 

d. Properti 
Properti adalah perlengkapan untuk mendukung tari, seperti: keris, panah, pedang, tombak, tameng, piring/lilin, pedang, kipas, tongkat. Pada tari tradisi yang bersifat magis seperti Tari Sablang, Tari Kuda Lumping/Jaman untuk membantu masuknya roh diperlukan kelengkapan seperti tempat dupa, ember untuk air, peeahan beling, bunga bunga, cantik, ubi, dan lainnya. 

e. Musik iringan 
Musik iringan termasuk pendukung seni tari. Untuk itu perlu dipersiapkan. baik dalam bentuk alat musik (instrumen) langsung maupun dalam bentuk kaset/CD yang telah banyak beredar. Musik iringan dapat menghidupkan suasana dan sebagai pedoman untuk gerak penari.

f. Tempat pergelaran 
Tempat pergelaran atau pentas pemunjukan tari di berupa bentuk panggung (tempat penari lebih tinggi) atau bisa dalam bentuk arena (tempat penari sama tinggi atau lebih rendah dari penonton). Letak penonton melingkari tempat tari (arena). 

Kalau penampilan penari itu di kelas, cukup di lantai dalam bentuk arena. Adapun kalau penunjukan di sekolah, bisa dengan di panggung permanen dalam gedung atau membuat panggung di lapangn terbuka sekolah. 

Pembuatan panggung atau arena pertunjukan diperlukan kesiapan penataan yang harmonis sehingga penari dapat leluasa bergerak dan penonton dapaat menyaksikan dengan jelas. Penataan panggung tari dapat di lengkapi dengan dekorasi (hiasan) panggung yang dapat menghidupkan suasana. 

g. Perlengkapan 
Perlengkapan untuk mendukung pergelaran/pertunjukan tari disiapkan dengan sebaik baiknya dan efisien. Perlengkapan yang disiapkan antara lain: Instrumen musik pengiring tari, sound system, tape recorde, lampu (pencahayaan), kursi, panggung, dan teks susunan acara. 

2. Menggelar Pertunjukan Seni Tari 
Penampilan atau pertunjukan karya seni tari yang digelar adalah karya seni tari kreasi dalam bentuk tari tunggal atau berpasangan/kelompok. Bentuk dari jenis tari serta susunan gerak tari yang akan ditampilkan adalah hasil cipta karya siswa, atau seperti yang dicontohkan pada buku ini. 

Tempat pertunjukan dapat dlaksanakan di dalam ruang kelas (penampilan kelas) atau di tempat lingkungan sekolah (pergelaran seni tari sekolah). Untuk penampilan kelas cukup dari dan untuk siswa satu kelas saja. 

Adapun untuk pergelaran seni sekolah ditampilkan dari semua kelas yang ada di sekolah mulai kelas X, XI dan XII. 

Penari, pelaksana, dan penontonnya adalah para siswa yang ada di sekolah tersebut. Hal ini jika telah ditetapkan sebagai program sekolah di akhir tahun pelajaran untuk membuat pergelaran seni. Tentu saja ini merupakan kegiatan dan karya besar. Untuk itu, perlu adanya pengorganisasian yang baik dengan membentuk kepanitiaan. 

Agar pertunjukan dapat berjalan lancar, diperlukan susunan acara dan seorang pemandu acara ( MC ). Pergelaran seni tari dilakukan setelah melalui berbagai persiapan, antara lain latihan dan gladi bersih. Pelaksanaannya setelah selesai penerimaan rapor atau akhir semester genap. 

Pergelaran tari merupakan suguhan atau sajian hasil kegiatan berolah seni tari. Pergelaran merupakan bentuk kegiatan penampilan dalam memperkenalkan prestasi kepada publik. Jadi pergelaran tari adalah sebagai wujud totalitas kegiatan akhir dari hasil berolah seni gerak yang disajikan secara khusus kepada orang banyak. 

Fungsi dan tujuan pergelaran tari adalah: agar siswa dapat lebih percaya diri bagi yang memperagakan, sedangkan bagi yang melihat berkesempatan menilai, mengekspresi, menghargai suatu karya seni sebagai khasanah budaya bangsa.

Pendukung pergelaran/penampilan tari adalah: 

a. Tata Busana dan Tata Rias 

1) Tata Busana 

Tata busana disebut juga tata pakaian dalam seni pertunjukan atau seni tari. Pemakaian busana (pakaian) di samping untuk memperindah tubuh. juga untuk mendukung isi tarian dan sebagai hiasan untuk menguatkan pernyataan gerak tari. 

Pertimbangan dalam menentukan busana adalah nilai simbolis yang sesuai dengan tema tarian. Nilai simbolis terkait erat dengan warna memiliki nilai simbolis dan nilai psikologis. Contohnya warna busana dominan merah mempunyai arti watak keras, berani. Pada tarian yang mempunyai sifat/watak indah dengan menggunakan warna dominan kuning dan jingga.

Busana yang dipakai penari membeli kentangklnan untuk menunjukkan sifat-sifat gerak. Gerak-gerak yang melebar dapat didukung dengan busana sampur (uncal) yang menyertai gerak tangan dan kaki. 

2) Tata rias wajah 

Tata rias wajah (maka) adalah cara menghias wajah (maka) untuk menjadi lebih indah (cantik) dan sesuai karakter (watak). 

Tujuan merias wajah/maka pada penari adalah untuk memperindah maka (menjadi lebih cantik dan tampan). dan membuat raut muka penari sesuai dengan watak (karakter) tarian yang diperankan. 

Watak tarian tampak tergambar pada wajah penari melalui goresan tata rias muak. Untuk hal tersebut sebaiknya perias adalah seorang yang ahli atau mengerti dalam bidang seni rupa karena unsur-unsur rias muka yang pentig adalah garis. warna dan bidang (seperti halnya unsur seni lukis/rupa). 

Tata rias wajah pada dasarnya adalah menata garis dan warna pada bidang muka atau melukis pada bidang wajah/muka 

b. Tata panggung 

Panggung adalah faktor pendukung tari yang penting. Penataan panggung yang estetias dan baik membuat penari lebih leluasa dan berekspresi dalam penyajian tari, penonton akan lebih jelas melihat gerakan tari dan penuh perhatian. 

5) Bentuk-bentuk ruang pergelaran (panggung) 
a) Pertunjukan arena 
b) Pertunjukan terbuka (sentral) 
c) Pertunjukan tertutup (frontal) 
d) Panggung dalam gedung (tertutup) 
e) Panggung (stage) arena terbuka.
b) Penentuan atau penataan tempat pergelaran 

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan tempat pergelaran, antara lain adalah: 

a) Tempat/lokal panggung aman dan luas. 
b) [0le perlu pertimbangan kaitannya dari segi transportasi dan katntmlkasl (strategi). 
c) Gedung/tempat pertunjukan agar sesuai dengan materi yang akan tlipergelarkan. 
c. Dekorasi 

Penekanan penyajian pergelaran di uampin gerak tari itu sendiri. antara lain adalah dekuraai tata rias, tata busana. tata suara. 

Dekaraal dan penataan ruang/tempat sangat berpengaruh pada hasil akhir pertunjukan. Penataan warna, background ( latar belakang). dan interior dapat memberi kesan indah dan megah sehingga dapat mendukung penampilan penari dan membuat penonton tertarik.

1) Tata cahaya (lighting) atau pencahayaan 
Dalam menggunakan lampu pijar yang berwarna-warni akan menambah kesan ekspreSl penari. Warna lampu dapat mendukung penari dalam menjiwai perwatakan dan mendukung suasana panggung lebih menarik. Cahaya lampu terikat erat dengan tata panggung. Sifat yang berhubungan dengan kepentingan panggung. Kesan dan Wama-wama menimbulkan watak/karakter, antara lain: 

a) Merah : panas, gairah, berani, marah. 
b) Biru : dingin, tenang, agung. 
c) Kuning : riang, gembira, ksatria 
d) Hijau : sejuk, segar, akrab, senang 
e) Jingga (oranye) : dinamis, lincah. 
f) Ungu/violet : romantis, berkabung, susah. 

Penggunaan Spotlight sangat mendukung watak peran dan suasana panggung serta memberi motivasi penonton untuk memusatkan perhatiannya. 

2) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan sumber cahaya (tata lampu) panggung adalah: 
a) Usahakan cahaya lampu cukup terang. 
b) Jangan menyilaukan penari atau penonton. 
c) Sumber cahaya tidak dari satu sudut. 
d) Untuk menghindari bayangan yang tajam, lampu ditempatkan pada bagian kanan kiri panggung, bagian atas, bawah, dan depan.

Untuk penampilan tari, berikut ini disampaikan contoh susunan “tari !“Casi daerah setempat yang diambil dari (catatan kumpulan berbagai Jams tari bentuk, oleh St. Lasa Prijan, 1984). 

Susunan ini dapat dikembangkan dengan kreasi atau improvisasi sendiri. 

1. Beksan Retnopamudyo 
Gending: Ldr. Kondomanyuro Sl. Manyuro 
Kaset Kukilo Lokananta Susunan: PKJT Surakarta. 
Urutaning beksan (Langkah-langkah tari): 

l. Gong buko, kipat srisig kanan maju gawang, ke tengah. 
2. Lumaksana magito seblakan sampur kanan, tangan kiri trap cethik kiri ngasta gendhewa-kipat srisig. 
3. Mojok ke kanan depan, tawing kiri gendhewa-ogek lambung 2 kali, ngembat asta kiri-mecak miring mundur kipat srisig. 
4. Mojok ke kiri depan-ngglebak nganan, tawing kiri-ogek lambung 2 kali ngglebag ke kiri tawing asta kanan, pecak miring mundur. Kipat srisig kanan ganti kipat srisig kiri menuju gawang-tengah. 
5. Sindhet kiri gendhewa-nikelwarti-seleh gendhewa nekuk menthangmangenjali.
6. Ambil gendhewa-berdiri sindhet kiri-maju mundur (ragu ragu) atau 3/ beksan lembehan-sindhet kiri).
7. Laras sawit A nekuk menthang 2 kali 
8. Sindhet kiri-lumaksana golek iwak 21/2 kali Kipat srisig kanan. 
9. Mojok ke depan kanan. Tawing kiri-ogek lambung 3 kali ngembat asta kiri-ogek lambung 2 kali.. 
10. Ngglebag-kenser ke kiri-berputar sindhet kiri. 
11. Oyak-oyakan : 
  • jujur tangan kanan miwir sampur, debeg seblak kaki kiri, (kejar-kejaran) tangan kanan menthang miwir sampur kengser ke kiri. 
  • seblak sampur kanan debeg kaki kanan, seblak, tangan kanan trap cethik kanan miwir sampur, kengser ke kanan. 
  • Kembali kengser ke kiri, tangan kanan menthang miwir sampur debeg seblak kaki kiri terus sindhet kiri. 
12. Beksan lembehan (sirepan)-sindhet kiri. 
13. Kipat srisig sunda (kanan-kiri-kanan) sindhet kiri. 
14. Ukel tangan kanan sambil nyenyep. 
15. Nggrodha gendhewa-pacak jangga 

Ngglebag ke kanan, tangan kanan menthang nompo pegang nyenyep ngebat, debeg seblak kaki kin', kaki kiri maju pasang nyenyep.

16. Mbat-batan gendhewa/menthang busur/tali busur pecak mundur, maju menthang tali busur-panahan. 
17. Panahan atau lepas nyenyap smbil duduk jengkeng, tawing kiri gendhewa.
18. Berdiri, tawing kanan miwir sampur (krunan), ngglebag ke kanan nompo kanan. 
19. Mbalik ke kiri, tangan kiri menthang pegang gendhewa, kengser ke kanan-sindhet kiri. 
20. Engkyek kanan-sindhet kiri-nikelwarti. 
21. Nikelwarti wasana-seleh gendhewa-ngapyuksampur kanan depan kayangan/leyek ke belakang-ukel tanggung kedua tangan lenggut mangenjali. 
Saleh asta gedheg-ambil gendhewa. 
22. Berdiri-lumaksanan magito seblakan sampur kanan, srisig masuk. Atau dapat pula berdiri terus kipat srisig kanan masuk (habis). 

2. TARI PRAWIROGUNO 

Iringan Bindri 

I. Maju gawang 

Irama I : 

1. Jengkeng mangenjali lengkap. 
2. Ambil tameng, pedhang, gedheg. 
3. Berdiri sabetan-lumaksana 3x.
4. Sabetan jadi tanjak kiri. 
5. Kembali jengkeng, seleh pedang, tameng, gedheg, silo/trapsilo.

II. Irama II :
1-8 : Trapsilo 
1-8 : Kosong tidak ada gerakan 
1-4 : Gedheg 
5-8 : Mangenjali 
1-4 : Turun Asta 
5-8 : Seleh asta 
1-4 : Kosong 
5-8 : Gedheg 1-8 : lengkeng 
1-8 : Gedheg-sembahan 
1-8 : Turun asta-seleh asta 
1-4 : Kosong 
5-8 : gedheg 
l-4 : Ambil tameng 
5-8 : Berdiri Sabetan 
Sekaran I : 
1-4 : Pacak jangga, encot (tangan kirimiwir sampur, tangan kanan pegang tameng diatas kepala selah kanan) 
5-8 : Seret kaki nyawuk kanan (tameng rnlumah di depan) Angkat kaki kanan seleb, tameng mengkurep.
1-4 : Encottan, ngglebag ke kiri, tusuk kanan. 
5-8 : Ngglebag ke kanan, kaki kiri seret gejug.
1-4 : Tolehan kanan kiri, seblak hadap kiri.. 
5-8 : Jumjung kaki kanan tameng mlumah, tameng mukul ngiwa-seleh kaki kanan. 
1-4 : Ukel tameng samping kanan atas 
1-4 : Tameng mukul ngiwa, mbantheng gambul tameng trap puser mlumah. 
Sekaran II 
1-4 : Pacak jangga gambul-seblak 
5-8 : Seret kaki nyawuk kanan (tameng mlumah) junjung kaki kanan seleh (tameng mengkurep) 
1-4 : Encotan, ngglebag kiri, tusuk ke kanan 
5-8 : Ngglebag kekanan, kaki kiri seret gejug. 
l-4 : Tolehan kanan kiri-seblak asta. 
5-8 : Ukel mlumah tameng, junjung kaki kanan, tusuk ke kanan, seleh kaki kanan. 
1-4 : Ukel tameng ganti encot, kiwal, tameng mukul, kiri mbalik gawang. 
5-8 : Menthang tangan kanan, angkatkaki kiri seleb kaki kiri. 
Sekaran III : 
l-4 : Pacak jangga gambul-seblak 
5-8 : Seret kaki nyawuk kanan (tameng mlumah) junjung kaki kanan, seleh (tameng mengkurep) 
1-4 : Encotan, ngglebag kiri, tusuk ke kanan 
5-8 : Ngglebag ke kanan, kaki kiri seret gejug. 
1-4 : Tolehan kanan kiri-seblak asta. 
5-8 : Ukel asta kanan, junjung kaki kanan, seblak asta kiri, seleh kaki kanan. 
1-8 : Onclang mbalik gawang-tameng di atas. 
Engkrang 
l-4 : Pacak jangga 
5-8 : Angkat kanan, songgo nompo 
1-4 : Pacak jonggo seleh kaki kanan. 
5-8 : Angkat kaki kiri, songgo nompo. 
1-4 : Pacak Jangga 
5-8 : Mbandul
1-8 : Besut tanjak kanan
Lancaran :
1. Seblak sampur kiri, mindah tameng di knan kiri (hoyogan)
2. Sabetan yanjak kiri. 
3. Jengkeng ambil pedang 
4. Gedheg 
5. Berdiri sabetan-tanjak sawego (tameng di depan dada, pedang di depan cethik) 

Perang jurus : Tusuk depan, babat samping kiri, babat depan, kembali sikap semula. Tusuk serong kanan, babat serong kiri, medang kanan, sikap semula. 

Tusuk kiri, babat kiri, babat depan, sikap semula. 
  • Besut, hadap kiri. 
  • Tusukan ngancap 4 tali.
Tusukan : Tusuk kanan. angkat kaki kiri 
Ngunci-Tusuk kanan-Ngunus pedang en ken awan kiri (sampai 3 kuli)
Ngunci depunTusuk kanan 
Ngancap sawego 2 kali 
1-6 : Babatan mundur. 
7-8 : J angkuh kiri. jangkah kanan. tanjak sawego. 
1-2 : J angkuh kanan tusuk kanan. stimpet kaki medang kanan.
3-4 : Putar ngurus-jangkah kanan nusuk.
5-8 : Besut putar. kembali gawang semula jadi tanjak kanan. 

Kembali sekuran seperti di muka yaitu sekaranl II dan III hanya menggunakan tameng dan pedang. 
Engkrang-baca uraian di atas. diakhiri jengkeng. 
Jengkeng: 
l. Gedheg-sabetan lumaksana 3 langkah .