Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Masa Pembuangan Ptolemaios XII

Masa Pembuangan Ptolemaios XII  

Sekitar pada tahun pada tahun 65 SM, Sensor Markus Lisinius Krasus telah mengeluarkan pendapatnya di hadapan Senat Republik Romawi bahwa Roma sepatutnya menganeksasi Mesir, tetapi usulannya dan juiga usulan dari Tribun Servilius Rulus pada tahun 63 SM akhirnya ditolak oleh senat.

Ptolemaios XII telah menanggapi ancaman kemungkinan aneksasi ini dengan menawarkan imbalan dan hadiah-hadiah mewah kepada para negarawan Kekaisaran Romawi yang mempunyai kekuasaan besar semisal Pompeyus sewaktu berperang melawan Mitridates VI dari Pontos, dan juga kepada Yulius Kaisar setelah terpilih menjadi konsul pada tahun 59 SM.

 Ptolemaios XII 



Walaupun demikian, perilaku hidup boros Ptolemaios XII telah membuatnya jatuh bangkrut lalu terpaksa berhutang pada cukong Romawi, Gayus Rabirius Postumus. Pada tahun 58 SM, Republik Romawi menganeksasi Siprus. Dengan dakwaan pidana perompakan, pihak Romawi mendesak Ptolemaios dari Siprus, adik laki-laki Ptolemaios XII, untuk bunuh diri.

Ptolemaios XII akhirnya memutuskan untuk tidak mengungkit-ungkit kematian adiknya di muka umum. Sikap seperti ini, ditambah pula dengan penyerahan wilayah kekuasaan turun-temurun wangsa Ptolemaios kepada Republik Romawi, membuat Ptolemaios XII kehilangan kepercayaan rakyatnya, yang waktu itu sudah tidak puas dengan kebijakan-kebijakan ekonominya.

Ptolemaios XII kemudian telah dipaksa untuk meninggalkan Mesir. Mula-mula dia pindah ke Rodos, kemudian ke Athena, dan akhirnya ke vila milik Triwira Pompeyus di daerah perbukitan Albanus, dekat Preneste, Italia. Ptolemaios XII tinggal hampir kurang lebih satu tahun lamanya di tempat yang terletak di kawasan sekitar kota Roma, juga ditemani oleh putrinya, Kleopatra, yang kala itu berumur sekitar 11 tahun.

Berenike IV telah mengirim rombongan perutusan ke Roma untuk mengukuhkan kekuasaannya sekaligus mencegah pemulihan kekuasaan ayahnya, tetapi Ptolemaios XII mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh kepala rombongan perutusan itu. Kejadian ini sengaja ditutup-tutupi oleh orang-orang kuat di Roma yang mendukungnya.

Manakala Senat Romawi telah menolak untuk memberi bekal dan sepasukan tentara untuk menemani kepulangannya ke Mesir, Ptolemaios XII memutuskan untuk meninggalkan Roma pada penghujung tahun 57 SM, dan pindah ke Kuil Artemis di Efesus.

Para cukong Romawi yang telah memodali Ptolemaios XII bertekad untuk mengembalikannya ke tampuk kekuasaan. Pompeyus telah membujuk Aulus Gabinius, Wali Negeri Romawi atas Suriah, untuk menginvasi Mesir dan memulihkan kekuasaan Ptolemaios XII dengan imbalan 10.000 talenta.

Walaupun telah melanggar hukum Kekaisaran Romawi, Aulus Gabinius telah menggerakkan pasukannya untuk menginvasi Mesir pada musim semi tahun 55 SM melalui Yudea, wilayah kekuasaan wangsa Hasmonayim, tempat bala tentara yang dipimpin orang-orang Romawi itu diberi perbekalan oleh Antipatros orang Edom, ayah Herodes Agung, atas perintah Hurqanos II.

Sebagai seorang perwira muda dalam jajaran pasukan berkuda, Markus Antonius kala itu bertugas di bawah pimpinan Aulus Gabinius. Sifat kepemimpinannya tampak menonjol pada waktu mencegah Ptolemaios XII membantai habis warga Pelousion, juga ketika menyelamatkan jenazah Arkelaos, suami Berenike IV, yang wafat dalam pertempuran, serta memastikan agar jenazah Arkelaos dimakamkan secara layak sesuai dengan statusnya sebagai raja.

Kleopatra, yang pada waktu itu sudah berumur 14 tahun, tentunya juga ikut dalam rombongan bala tentara Romawi yang bergerak menuju Mesir. Bertahun-tahun kemudian, Markus Antonius mengakui bahwa pada saat itulah ia pertama kali jatuh cinta pada Kleopatra.

Aulus Gabinius dihadapkan ke sidang mahkamah di Roma atas dakwaan penyalahgunaan kewenangan, dan diputuskan tidak bersalah, tetapi dalam sidang mahkamah kedua yang mengadilinya atas dakwaan menerima suap, ia diputuskan bersalah dan dijatuhi hukum buang. Tujuh tahun kemudian, pada tahun 48 SM, dia dipanggil pulang dari pembuangan oleh Yulius Kaisar.

Markus Lisinius Krasus telah menjadi Wali Negeri Suriah yang baru menggantikan Aulus Gabinius, dan memperluas wilayah kewenangannya sampai ke Mesir, tetapi pada akhirnya meninggal dibunuh orang Partia dalam Pertempuran Karai pada tahun 53 SM. Ptolemaios XII telah menjatuhkan hukuman mati terhadap Berenike IV berikut para hartawan pendukungnya, dan menyita seluruh harta kekayaan mereka.

Dia telah mengizinkan Pasukan Gabiniani, garnisun Romawi titipan Aulus Gabinius yang sebagian besar personelnya ialah orang-orang Jermani dan Galia, untuk bertidak keras terhadap masyarakat di jalanan kota Aleksandria, dan mengangkat Gayus Rabirius Postumus, cukong Romawi yang sudah lama memodalinya itu, menjadi menteri keuangan.

Dalam setahun, Gayus Rabirius Postumus ditempatkan di bawah penjagaan ketat, lalu diberangkatkan pulang ke Roma setelah keselamatan nyawanya terancam akibat tindakan-tindakannya yang menguras habis sumber-sumber daya tanah Mesir.

Walaupun disibukkan dengan semua permasalahan ini, Ptolemaios XII masih menyempatkan diri untuk menyusun sepucuk surat wasiat berisi penunjukan Kleopatra dan Ptolemaios XIII sebagai ahli waris bersama atas takhta Mesir, untuk melaksanakan pengerjaan proyek-proyek besar seperti pembangunan Kuil Edfu dan pembangunan sebuah kuil di Dendera, serta memulihkan stabilitas perekonomian Mesir.

Menurut keterangan yang telah terukir pada dinding Kuil Hathor di Dendera, Kleopatra telah diangkat sebagai pemangku raja oleh Ptolemaios XII pada tanggal 31 Mei, tahun 52 SM. Sampai pada akhir hayatnya, Ptolemaios XII tak kunjung tuntas melunasi utang-utangnya pada Gayus Rabirius Postumus, lalu sisanya telah menjadi beban tanggungan para penggantinya, Kleopatra dan Ptolemaios XIII.

Baca juga selanjutnya di bawah ini :

Post a Comment for "Masa Pembuangan Ptolemaios XII "